Review Album: The Art of Doing Nothing dari Mark Owen (beserta semua lagu di dalamnya alias spoiler habis-habisan)
Ah, Mark
Owen. Salah satu pahlawan dan inspirasi terbesarku. Ketika pertama kali kenal
Take That, harus kuakui bahwa aku sempet in love at the first sight sama Gary
Barlow di mv A Million Love Songs,
tapi makin lama, kok cintanya jadi ke Mark(?). Oke lupakan soal itu, sekarang
aku akan me-riviu salah satu album terbaik Mark (menurutku) dan yang paling
jadi favoritku karena semua lagu-lagu di album ini sangat meaningful dan
bener-bener bisa bikin aku menemukan arti hidup (njir lebay yak? Bodoamat dah
emang bener kok).
Album ini
rilis pertama kali di Jerman pada tanggal 7 Juni 2013 lalu setelahnya di UK
tanggal 10 Juni 2013 dan posisi tertingginya di chart hanya sampai angka 29 di
UK, bukti bahwa album ini begitu underrated, termasuk artisnya sendiri, Mark
Owen yang juga underrated sejak dulu :’)
Well memang
terlalu cepat kalo aku bilang dari awal bahwa album ini underrated, padahal
dibahas isinya aja belom yak wkwk, tapi ya gapapa deh, lagian akutu ga jago
bikin riviu gais jadi maklumin kalo berantakan kayak kisah cintaku (anying
malah curhat)
Sebelum bahas
lagu-lagunya, mari kita bahas covernya sejenak. Cover album ini menampilkan
Mark yang sedang duduk di ruang kosong dengan buku di tangan dan menutupi
wajahnya. Outfitnya memang sangat “Mark Owen banget” dengan gaya yang formal
ditambah topi. Sebenarnya masih ada beberapa pic lagi dalam album ini dan ini
salah satu yang jadi favoritku:
Makna dari
gambar-gambar tersebut tentu berkaitan dengan judul albumnya. Ruang kosong,
diibaratkan sebagai kata nothing
dalam album ini. Kemudian Mark menjadikan ruang kosongnya penuh coretan yang
pada akhirnya menjadi sebuah karya.
Oke langsung saja kita bahas isi albumnya ya. Lagu-lagu di album ini antara lain (ini aku ambil versi deluxe ya, bukan yang standard)
1.
Giveaway
2.
The One
3.
Stars
4.
Carnival
5.
Animals
6.
Us and Ours
7.
Heaven’s Falling
8.
Raven
9.
S.A.D.
10. The End of
Everything
11. Ghost
12. Morning Belle
13. The Lamb
Tiga belas
lagu dalam satu album yang bergenre macem-macem (mostly electronic). Bisa
dibilang ini adalah karya Mark dengan gaya yang sangat baru dan berbeda dari
album solonya dulu. Ya wajar sih kalo beda, karena terakhir kali doi rilis
album sekitar tahun 2005 sebelum Take That reuni dan bertahun-tahun setelahnya,
gaya bermusik Mark banyak berubah karena pengaruh dari perkembangan industri
musik (tentu saja termasuk ehem, pasar). Selain dari itu, Mark melibatkan
banyak orang dalam pembuatan karyanya ini termasuk kolaborasi bersama beberapa
penyanyi dan penulis lagu. Bahkan doi juga lebih suka menyebut album ini
sebagai album kolaborasi daripada album solo.
Terlepas dari
genre dan gaya bermusik, aku lebih suka fokus pada materi lagu-lagunya. Pertama
kali Mark rilis album solo Green Man
di tahun 1996 dan In Your Own Time di
tahun 2003, kemampuan menulisnya bisa dibilang belum terlalu bagus dilihat dari
materi lagunya. Seiring berjalannya waktu, album How The Mighty Fall di tahun 2005 mulai jadi perbincangan tentang
kemampuan menulis Mark yang semakin baik dan setelah banyaknya kejadian yang
dia alami, Mark terbukti menjadi salah satu penulis lagu terbaik di Take That.
Bertahun-tahun berkarya bersama Take That lagi, ketika doi kembali bersolo
karir, lagu-lagu tulisannya menjadi hal yang paling unexpected. Satu lagi yang
menjadikan album ini unik yaitu judulnya sendiri. The Art of Doing Nothing.
Mark menjelaskan bahwa ketika dia menulis dan mengerjakan album ini, dia kerap
dapet pertanyaan dari orang-orang seperti, “Mark, ngapain nih sekarang?”
(karena pada saat itu kan Take That sedang hiatus dan membernya bersolo karir
semua). Pertanyaan itu dijawab oleh Mark dengan sederhana, “Nothing”. Maka pada
akhirnya, doi pun menjadikan kata nothing
sebagai bagian dari judul sekaligus sesuatu yang kerap diulang dalam
lagu-lagunya sebagai sesuatu yang justru penuh makna dan sama sekali bukan nothing.
1.
Giveaway
Lagu pembuka
album ini. Dilihat dari liriknya, interpretasi aku adalah lagu ini tentang
hubungan Mark dengan Emma, istrinya. Kembali lagi ke 2009-2010 ketika doi
mengakui soal perselingkuhannya yang bertahun-tahun itu, hubungan mereka jelas
sangat rumit dan hampir berakhir, meski pada akhirnya terselamatkan, masa-masa
itu ga bisa dilupakan begitu saja dan terbukti dengan lagu-lagu di album ini
yang sebagian besar terinspirasi dari Mark yang ‘melihat ke belakang’.
Giveaway
bercerita tentang kesadaran bahwa segala yang ada dalam hidup ini bukanlah
milik kita, semua itu bakal berakhir dan diambil kembali oleh Tuhan (meski doi
ga secara spesifik menyinggung soal Tuhan, tapi Mark memang selalu menjadi
sosok yang religius). Selain itu di awal lagu, liriknya lebih seperti mengajak
dan meyakinkan seseorang bahwa semuanya akan baik-baik saja (yakin banget pasti
ini ditujukan untuk istrinya). Karena di salah satu line doi menuliskan “I wasn’t falling but you caught me anyway”
Inti dari
lagu ini, apapun yang terjadi, sebesar apapun kehilangan yang kita alami, kita
emang harus ikhlas melepaskannya. Bahkan ketika kita ditinggalkan oleh
orang-orang yang kita sayang (dalam arti meninggal dunia), kita ga benar-benar
berjauhan dengan orang-orang itu. Aku jadi keinget salah satu lagu Letto yang
berjudul Memiliki Kehilangan.
Maknanya hampir sama dengan lagu ini. Kita ga bisa kehilangan apapun di dunia,
karena sebenernya kita ga pernah benar-benar memiliki semua itu :’)
“When we fall, got to give it all away
We can't hold on, never had it anyway
When we're gone, never really far away
When we fall, there's nothing left to give away
So giveaway”
2.
The One
Ini akan
selalu jadi lagu favoritku sepanjang masa. Lagu ini bikin kita mempertanyakan
kembali apa yang selama ini kita cari. Apa yang selama ini bikin kita sibuk
kesana kemari tapi pada akhirnya kita Cuma menemukan kehampaan dan gak
menghidupi hidup sama sekali. Cocok banget buat bahan renungan (tapi menurutku
emang semua lagu di album ini cocok dibikin bahan renungan sih hehe), terutama
untuk orang-orang dewasa muda.
Pertanyaan
paling utama yang ada di liriknya “Are
you looking for the one?”
Ada dua hal
yang aku tafsirkan dari ini, yang pertama, “the one” yang merujuk ke seseorang
atau suatu tujuan hidup (katakanlah kesuksesan, kebahagiaan atau semacamnya);
dan yang kedua, “the one” dalam artian Tuhan. Sekali lagi aku ga bisa jauh-jauh
mengartikan lagu Mark dalam makna yang religius karena doi memang begitu.
Terlepas dari
kedua hal itu, sebenernya pertanyaan itu pun langsung mendapat ‘peringatan’ di
line berikutnya di awal lagu, “the more
you look, the less you’re gonna find here”
Semakin kita
berusaha mencari-carinya, justru kita akan semakin sulit menemukannya. Kenapa?
Karena kita mencari dengan cara yang salah. Seperti yang aku bilang di awal,
kita terlalu sibuk dan menggebu-gebu, akhirnya kita kehilangan makna dari
pencarian itu sendiri. Ini juga ditegaskan dalam line “you think so much, you’re gonna blow the idea”.
Lagu ini juga
mengandung line yang menjadi judul dari albumnya: “the world is yours to navigate when practicing the art of doing nothing”. Pengingat pertama dalam album ini
bahwa segala sesuatu pasti ada maknanya bahkan jika sesuatu itu terlihat
seperti bukan apa-apa.
Jadi inti
dari lagu ini adalah, jalani hidup sepenuhnya, tenang, manapun jalan yang
dipilih, sudah ada keindahan dan pelajarannya masing-masing. ©
3.
Stars
Lagu utama
dalam album ini. Mark menjelaskan bahwa lagu ini dia persembahkan untuk
anak-anaknya (seperti lagu Animals).
Lagu ini bercerita tentang Mark sebagai orang tua, akan melakukan apapun demi
anaknya. Dibuka dengan lirik “gonna build
a rocket anytime you want it”.
Mark
menganalogikan dirinya dan anak-anaknya sebagai bintang yang jatuh ke bumi lalu
tersesat dan berusaha menemukan jalannya kembali ke tempat asalnya yaitu
langit. Pesan yang disampaikan cukup jelas di bagian reff-nya.
“‘Cause we’re
just stars tryna’ get back to where we’re from
One by one
we’re gonna leave this planet
So don’t look
back ‘cause you know that it’s all just time
When you’ve
got nothing on your mind, you made it”
Seperti yang
sudah aku singgung di awal bahwa Mark membuat pengulangan yang terasa seperti
penegasan dalam kata nothing. Ini
adalah yang ke dua, dimana doi berpesan kepada anak-anaknya bahwa ketika
pikiranmu kosong, maka kau berhasil. Kalimat ini tentu saja gak bisa diartikan
secara harfiah. Kalo menurut interpretasiku, pikiran kosong yang dimaksud Mark
adalah ketika kita bisa menjadi lebih tenang dan mengesampingkan urusan duniawi
(terkesan terlalu spiritual, sih). Anyway siapapun bebas menafsirkan, kan?
4.
Carnival
Sama seperti
lagu Giveaway, lirik di lagu ini
lebih mengarah ke hubungan Mark dengan Emma. Kalo diperhatiin lagi, sih,
sebagian besar liriknya berisi penyesalan dan permintaan maaf serta tentu saja
permohonan untuk tetap ‘stay’ dan membuka lembaran baru.
Secara
perasaan, aku menganggap lagu ini mirip dengan lagu What Do You Want From Me yang ditulis Mark untuk album Progress bersama Take That di tahun 2010
(yang juga ditulis Mark untuk Emma selama masa-masa rumitnya hubungan mereka).
Makna kedua lagu ini mirip karena mendeskripsikan Mark yang jatuh cinta
habis-habisan sama istrinya dan ga akan pernah bisa move on. Kata ‘carnival’ ini sendiri aku artikan
sebagai perasaan cinta itu tadi, yang selalu exciting dan gak akan pernah pudar
(ya Tuhan semoga di masa depan partnerku seperti ini huaaaa *nangis di pojokan
dalam keadaan jomblo).
“There’s a drum that’s beatin’ in my heart and
inside my head there is a carnival”
5.
Animals
Sebelumnya
sudah aku singgung bahwa lagu ini adalah untuk anak-anaknya Mark. Sama seperti Stars, makna lagu ini adalah tentang
sosok orang tua yang akan selalu melakukan apapun agar anaknya bahagia, salah
satunya di lirik berikut:
“mommy’s
gonna make you a paper crown” dan “daddy’s gonna buy you the
morning sun”
Selain itu
tentu saja diikuti dengan nasihat dan ‘peringatan’ untuk anak-anaknya seperti
yang tersirat dalam lirik “write your headline while you can”
dan “did
you ever lay a plan?” dimana cukup jelas bahwa Mark ingin anaknya agar
tumbuh menjadi pribadi yang punya rencana agar hidupnya terarah dan memiliki
kisah hebat mereka masing-masing agar bisa menjadi “headline”.
“Shout it
out! We could be the animals, we could be the monsters now, we could bring the
whole place down and the world is gonna know your name”
Secara
keseluruhan, inti dari lagu ini adalah penegasan dari Mark kepada anak-anaknya
bahwa apapun impian mereka, mereka bisa mencapai itu semua dan menjadi apapun
yang mereka inginkan, sebagai orang tua, Mark akan selalu memberikan dukungan
penuhnya. Manis, kan? Mungkin agak gimana gitu ya menggunakan kata “animals” tapi menurut aku itu sudah pas
karena kata ini dan juga “monster”
merujuk pada sesuatu yang liar dan bisa diartikan sebagai impian.
6.
Us and Ours
Satu lagi
lagu yang dipersembahkan untuk Emma (berdasarkan pengakuan Mark). Dari awal
sampe akhir, setiap liriknya mudah dipahami maknanya, penggunaan diksinya juga
lebih sederhana dan maknanya lebih tersurat. Intinya ya tentang kehidupan cinta
sepasang manusia yang sudah melewati “masa kritis” dan kembali membuka lembaran
baru, berusaha saling berpegangan lebih erat dan siap menghadapi apapun yang
terjadi selanjutnya.
“Us and ours,
it’s gonna be a bright day someday afternoon in this whole house, you said it.
Us and ours,
gonna ride those highs and lows, all flesh and bones.
The sun will
set and we’ll all start dreamin’”
7.
Heaven’s
Falling (feat. Jake Emlyn)
Lagu ini
adalah lagu dengan lirik paling banyak di album ini (ditambah dengan tulisan
Jake Emlyn), dan kalo dibahas secara detail bakal sangat panjang karena menurut
interpretasiku, lagu ini mengandung materi dan makna yang kompleks Tapi jika
diambil kesimpulan secara garis besar, memang seperti curahan hati Mark yang
dituangkan habis-habisan. Bahkan di bagian yang ditulis Jake (rapp), sangat
merujuk ke Mark. Jadi lagu ini tuh kayak dua orang yang saling berdialog, tapi
Mark bicara dengan dirinya sendiri (di beberapa line) sedangkan Jake seolah
bertindak seperti suara-suara yang ada di pikiran Mark, atau semacamnya lah
(bingung juga jelasinnya heuheu).
Salah satu
bagian Mark (yang menurutku adalah line dimana dia berbincang dengan dirinya
sendiri) : “Don’t wanna be king, could have it over. You put your body in the
storm and now the water’s gonna carry you away. You know you never gonna come
back here again.”
Salah satu
bagian Jake (yang menurutku adalah makna inti dari lagu ini) : “I
look you in your eyes, you’re there but you’re not. You say you’re always happy
and you’re smiling a lot. But do you really dare? Do you feel anything?”
Mark selalu
dikenal sebagai sosok ramah yang murah senyum dan kelihatan selalu bahagia, ga
ada masalah. Dan line tersebut lebih terasa seperti self-question(?) dimana
Mark mempertanyakan apakah selama ini dia memang bahagia sungguhan atau itu
hanya pura-pura karena dia harus selalu tampil di depan kamera.
Tapi memang
di bagian reff-nya berisi narasi tentang langit yang runtuh dan ini bikin aku
sekali lagi kepikiran soal Emma.
“Honey, I see
your light. Now that heaven’s falling around us. Gotta get up and get away
sometimes.”
Di tengah
keadaan yang kacau (ketika langit runtuh), Mark mengajak orang tersebut (yang
ia panggil sayang) untuk bangkit dan menjauh, dengan tuntunan cahaya dari orang
itu.
Seperti yang
aku bilang, lagu ini memang sangat rumit dan pembahasan di atas belum seberapa
dibandingkan semua lirik yang ada. Anyway kalian bisa baca liriknya dan
tafsirkan menurut pemikiran kalian sendiri hehe.
8.
Raven
Lagi-lagi
sebuah lagu yang menceritakan tentang Emma. Awalnya aku bingung kenapa harus Raven yang artinya gagak? Bukankah gagak
itu sering dijadikan sebagai representasi dari kematian yang siap menjemput?
Tapi ini kan lagu cinta?
Kemudian aku
pahami liriknya lebih lanjut. Di awal-awal lagu sebenernya lebih
mendeskripsikan soal kehidupan, sih. Lalu menceritakan seseorang yang jatuh
cinta pada pandangan pertama, tapi di lirik-lirik selanjutnya kembali membahas
kehidupan dan pada akhirnya sampai di lirik “when my raven calls and it’s
time to go”
Menurut aku
dalam album ini yang banyak membahas soal kehidupan, Mark juga gak lupa untuk
menambahkan pengingat tentang kematian meski secara tersirat (tapi menurutku
cukup jelas dilihat dari beberapa lirik juga di lagu-lagu sebelumnya).
Di lagu ini
juga terdapat pengulangan tentang nothing
yaitu di lirik “every idea has a starting place, nothing begins in an empty space”
Dan di bagian
akhir lagu, Mark kembali menggunakan kata gagak, tapi aku mencernanya sebagai
objek yang berbeda. Jika di line-line sebelumnya gagak yang dimaksud adalah
panggilan tentang kematian, gagak di bagian akhir lagu ini merujuk ke Emma.
“Oh my love
is a raven, and she’s more than enough. Tell my love if you see her. She’s my
raven and she’s loved.”
Tapi kenapa
harus menyamakan gagak sebagai penanda kematian dengan seseorang yang begitu
dicintai?
Oke,
interpretasiku bisa saja jauh berbeda dari apa yang dimaksudkan Mark, tapi
menurutku menyamakan dua hal (kematian dan orang yang sangat dicintai) dalam
satu objek yang disimbolkan dengan gagak adalah sesuatu yang cukup masuk akal.
Karena kalo dipikir-pikir, kematian adalah sesuatu yang pasti akan menghampiri
kita, yang tidak bisa kita hindari. Kemanapun kita pergi dan sembunyi, kematian
itu akan selalu bisa menemukan kita. Sama seperti ketika kita jatuh cinta
begitu hebat ke seseorang. Kemanapun kita, apapun yang kita lakukan, pasti akan
selalu teringat orang itu. Ketika kita jatuh cinta, orang yang kita cintai
menjadi sesuatu yang tidak bisa kita lepaskan bayang-bayangnya.
Seperti Mark
yang jatuh cinta pada istrinya dari hari ke hari, ia merasa Emma seperti gagak
yang sering dianggap simbol kematian yang tidak bisa dihindari dan akan selalu
mengikuti. Emma lebih dari sekadar rumah bagi Mark, tapi dia adalah sandaran
serta titik akhir yang menjadi tujuan Mark.
9.
S.A.D (feat.
Ren Harvieu)
Lagu yang
akan selalu jadi lagu favorit aku tapi sayangnya ga akan pernah bisa aku
nyanyikan dengan sempurna karena vokalnya Mbak Ren yang sangat flawless :’)
Oke, makna
lagu ini adalah sebagai pengingat bahwa:
1. kehidupan
ini penuh jatuh bangun dan itu bisa terjadi kapan saja;
2.
orang-orang yang meninggalkan kalian di saat sulit tentu bukan teman;
3. apapun
yang terjadi, hadapi bersama-sama;
4. terkadang
kita bisa saja khilaf dan melewatkan kesempatan yang ada;
5. orang-orang yang menjadi pemimpin belum tentu
hatinya baik dan yang paling penting;
6. kita boleh
aja sedih, tapi ga boleh berlarut-larut.
“We
could’ve been sad for just a little bit longer”
That’s all.
Simple yet beautiful.
10.
End of
Everything
Satu lagi
favoriiitt (perasaan semua favorit dah -,-) hihi yang satu ini pas pertama kali
denger langsung bikin merinding dan nangis soalnya vibenya berasa banget antara
menyerah atau tetap bertahan. Bahkan lirik pembukanya aja udah nyes, “sometimes
in this sweet century, oh we will die together. Oh my love, my sweet array, we
will surrender”
Jujur aja aku
awalnya mengira apakah lagu ini lagu untuk menyerah? Masa setelah membahas
motivasi hidup, terus menyerah? Kok begini? Sampe line-line berikutnya pun
bikin makin putus asa dengan mengulang-ulang pertanyaan “is this the end of everything we
know?”
Syukurlah
akhirnya diakhiri dengan kalimat pertanyaan lagi yang membawa harapan dan
optimisme, “or the start of something beautiful?”
Ya pastinya
Mark masih terinpirasi dari kejadian di masa lalunya yang membuatnya merasa
seperti ia (hubungannya) sudah berakhir dan itu sangat devastating, tapi
kemudian mereka sama-sama memperjuangkannya kembali dan akhirnyaaa… sesuatu
yang indah pun ada :’))
11.
Ghost
Ketika
pertama kali denger lagu ini, aku beneran gak paham sama maknanya. Hantu,
kira-kira apa ya? Karena dari awal, lagu ini menceritakan suatu kejadian yang
sudah berlalu dan sulit dilupakan hingga kejadian itupun menghantui.
Lagi-lagi
kepikiran, apa ini tentang hubungan Mark dengan Emma lagi ya? Sepertinya cukup
make sense, tapi perkiraanku terbantahkan oleh kalimat “I hope you’re happy now, and I
have to let you go, but I wish that you were here”
Aku langsung
sadar dan berpikir, hm tunggu, Mark dan Emma kan ga berpisah? Terus siapa orang
yang dimaksud Mark yang dia “lepaskan”?
Mencoba
menyimak lagi line selanjutnya,
“All things
will pass, you told me that. I watch the storm’s pulling me back.”
Hm, masih gak
paham. Akhirnya aku balik lagi menyimak line-line awal ketika Mark menceritakan
tentang suatu kejadian. Kemudian aku curiga dengan line “we tried to make the best of it,
we can. I almost feel we’re moving on”
Dan seketika
aku sadar lagu ini menceritakan tentang …Album Progress, Progressed, tur Take
That di tahun 2011, dan aku berani taruhan, lagu ini secara spesifik ditujukan
ke Robbie Williams, sahabat terbaiknya!
Setelah
selesai dengan reuni berlima, RW memutuskan untuk kembali bersolo karir (selain
karena dia juga udah berkeluarga) dan mungkin inilah yang dimaksud Mark dalam
lagu ini bahwa dia harus “melepaskan” Rob lagi padahal dia berharap Rob bakal
stay di Take That untuk seterusnya.
Dan begitulah,
untuk selanjutnya, kenangan dari masa-masa itu bagaikan hantu yang mengikuti
Mark yang bikin dia keinget setiap malam huaaaaa *crying intensifies
12.
Morning Belle
Well,, jujur
saja aku ga bisa membahas banyak tentang lagu ini tapi dari liriknya jelas
sekali ini lagu yang bernuansa religius karena Mark secara gamblang
menuliskannya,
“If there’s a
call, won’t she call me in? If there’s a God, does she know my name?
It was the
turn of the earth unfrozen, and she’s gonna save us all”
Jangan lupa
bahwa Mark juga pernah merilis lagu berjudul “Hail Mary”. Ini yang membuat dia
semakin tampak sebagai yang paling religius dan begitu mengutamakan pengalaman
spiritual (tercermin di lirik-liriknya, kan?)
13.
The Lamb
Baaaaikklaah sodara
sodaraaa akhirnya kita sampai di trek terakhir dalam album ini (astaga ga
nyangka udah panjang banget ini riviu lebih cocok jadi novel).
The Lamb,
anak domba. Hm.. apa ini lagu dengan tema religi lagi? Mengingat ada kata domba
di judulnya hehe *get stared by Christian fellas immediately.
Ehem,
maafkeun. Setelah dibaca dan dipahami liriknya, ini adalah lagu cinta (lagi)
tapi memang dalam lagu ini hanya disebutkan kata the lamb sekali doang, pas
masuk akhir lagu. Sepanjang lagu justru Mark mengulang kalimat “I
will wait for you here”
Intronya,
siulan yang sangat kalem lalu diikuti petikan gitar (atau bass) ga paham juga,
intinya mellow dah. Lagu ini durasinya paling singkat.
“Everyone has
a journey, filled with hope and adventures, every journey leads somewhere, I will
wait for you here”
Yup, itulah
dia makna lagunya, sudah diletakkan di awal lagu wkwk *geplak
Eh tapi
serius, makna lagu ini menceritakan bahwa hidup memang suatu petualangan. Bahkan
ketika kita ga pergi kemana-mana, kita tetap menjalani petualangan di pikiran
kita dengan segala pertarungan di dalamnya. Dan setiap liriknya diikuti dengan
kalimat “aku akan menunggumu disini” (pulang, rumah) menurutku ditujukan kepada
Emma (atau bisa juga dibalik, lagu ini ditujukan kepada Mark melalui sudut
pandang Emma).
Sekali lagi,
pengulangan nothing: “When you know you have made it, you won’t
even have noticed. You’re too busy for nothing”
Yeah kadang
emang kita ga sadar ya ketika melalui suatu masalah, tapi kemudian berhasil
melewatinya, tau-tau udah ada masalah baru HAHAHA
“Every lamb
needs a lion”: setiap domba butuh singa yang menjadi predatornya,
aku mengartikan bahwa setiap orang pasti punya/butuh lawan dalam hidupnya yang
menjadikan dia seorang petarung (bahkan jika itu pertarungan melawan dirinya
sendiri).
“Every earth
needs a sky”: setiap orang butuh orang lain sebagai pendukung dan
pelengkap hidupnya, ia ga akan pernah bisa berjalan sendiri.
Daaaan itulah
tadi pembahasan keseluruhan trek yang ada dalam album luar biasa tetapi sangat
underrated ini. Riviuwer menghabiskan waktu kurang lebih dua hari untuk
ngetiknya karena sambil males-malesan wkowkwokw. Sekali lagi mohon maaf apabila
berantakan dan banyak kesalahan, kalimat yang tidak efektif dan bertele-tele
serta typo karena ini Cuma gabut sebenernya ekekek (gabut yang keterusan sampe
panjang).
Sekian riviu
dariku yang amatir ini. Semoga siapapun yang membaca ini jadi tertarik untuk
mendengarkan albumnya supaya nambah anggota fandom Mark Owen di Indonesia unsss©
Have a nice
day!
Handdwi.


Komentar
Posting Komentar