Merenungi Kembali Karya Sang Underrated-Genius Mark Owen

 

Halooo, para pembacaku! Selamat datang kembali di blog yang hampir setahun tidak di-update ini :” di tulisan kali ini aku bakal membahas tentang album solonya Mark, ya, semuanya (lagian albumnya cuma ada empat doang dan, ehem, MANA YANG BARU, MAARRK??!). Oke ngamuk dan protesnya nanti aja, sekarang kita fokus dulu ke tujuan (aseek). Di sini aku gak akan review satu-satu secara mendetail, hanya ingin menyampaikan beberapa poin penting yang pada intinya adalah mengingatkan kalian semua (termasuk seluruh dunia) bahwa Mark adalah penulis lagu jenius yang underrated.

Album pertama, Green Man.

 

Sebagian besar lagu-lagu di album ini dengan sangat jelas berisi cerita tentang proses ‘peralihan’ Mark Owen dari yang sebelumnya salah satu anggota boyband tersukses, kini sudah bersolo karir. Lagu-lagu yang bisa langsung dimengerti bahwa materinya adalah ‘curhatan’ Mark mendominasi album ini seperti Are You With Me, Backpocket and Me, Move On, I Am What I Am, dan Is That What It’s All About. Bahkan lagu Green Man yang isinya tentang mencintai dan menjaga lingkungan juga gak luput dari lirik yang mengindikasikan bahwa Mark ingin dan memang harus move on dari masa lalunya, meninggalkan semua atribut Take That yang selama ini melekat pada dirinya.

“As a snake sheds its skin, you've got to shed your past over and over again.

Don't live for the past or the future, live now.”

Hal lain yang kutangkap dari album ini adalah, album ini secara keseluruhan terdengar seperti seseorang yang sedang mengalami krisis eksistensial (oke, mungkin ini agak serem dan berlebihan so, aku bakal ganti aja), mungkin lebih tepatnya seseorang yang sedang dalam pencarian jati diri.

Eh, ntar deh, Mark di tahun itu kan umurnya sekitar 24, masa iya sih masih belum ‘menemukan’ jati diri? Kayak anak remaja aja~

Well, sejak umur 18 hingga kurang lebih enam tahun setelahnya, Mark berada di bawah kendali siapa? Yoi, manajer Take That. Bahkan dia sendiri bilang dalam salah satu dokumenter mereka, “kami belajar cara menjadi bintang pop sebelum kami belajar cara menjadi manusia.” Sad, innit?

Jadi album ini menurutku menyampaikan perasaan itu dengan sangat kuat, juga di lagu Confused (btw intermezzo, materi lagu ini sedikit banyak bikin aku inget lagu Come Undone-nya Robbie) juga tentunya di semua lagu yang ada, seolah berkata, “aku siapa? Kenapa? Bagaimana?”

Selain dari itu, Mark juga menyampaikan kecemasan dalam tulisannya (yang sayangnya, itu beneran terjadi dilihat dari album-album solonya yang gak terlalu sukses). Terlepas dari sukses atau enggaknya album ini di tangga lagu, aku mengagumi keberanian dan kejujuran serta kekonsistenan Mark yang selalu ia tunjukkan dalam tulisannya.

 

Album ke dua, In Your Own Time.

Setelah jeda selama kurang lebih enam tahun, Mark akhirnya kembali menulis dan merilis album yang sampai sekarang selalu jadi favoritku untuk didengerin di kala galau dan patah hati karena teringat kenangan bersama doi (jhaa malah curcol). Menurutku judul yang dipilih Mark untuk album ini emang cocok sih dengan apa yang baru aja dia alami/lakukan, yaitu menyendiri dan lebih mendalami hal-hal spiritual yang mana mulai terlihat dalam tulisannya seperti lagu Pieces of Heaven dan My Life, tapi sejujurnya, yang aku tangkap dari album ini adalah sebagian besar isinya tentang keresahan Mark soal cinta.

Sama seperti album sebelumnya yang konsisten dengan satu tema (dalam hal materi), album ini juga punya temanya sendiri yaitu tentang jatuh cinta, patah hati, kesendirian, pokoknya hal-hal yang berhubungan dengan masalah percintaan (dan itulah kenapa aku suka banget dengerin album ini saat galau). Bahkan di lagu Four Minute Warning yang isinya tentang bencana nuklir punya lirik begini: Lucy had a hard time with love, but love recently chose the right time for Lucy. Lirik itu aku interpretasikan sebagai salah satu curhatannya Mark juga yang mungkin sedang dilema soal cinta(?) yang mana pada saat itu dia baru aja putus dari pacarnya karena Mark mengaku kalo dia memang masih pengen sendiri.

Selain problema percintaan dengan significant other, ada juga lagu Alone Without You dan If You Weren’t Leaving Me yang dicurigai sangat kuat ditujukan kepada sosok Robbie. Karena album ini menyuarakan rasa sakit hati, masuk akal, sesuai dengan yang pernah diungkapkan Gary bahwa gak ada cewe mana pun yang pernah bikin Mark patah hati, hanya Robbie yang bikin hati Mark hancur berkeping-keping saat dia keluar dari Take That.

Dari beberapa lagu patah hati di album ini, yang paling bikin nyesek menurutku Head In The Clouds. Dan bukan cuma karena aku menginterpretasikan lagu ini sebagai lagu tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi cara Mark mempresentasikannya beneran gila banget (dalam arti positif, tentu saja). Dua lines favoritku:

"Poison in the coffee that she made for me.

Bullets from her brand new gun, a gift from me."

Lagi-lagi, Mark berhasil menjaga tema albumnya tetap konsisten meskipun dia masih dipandang sebelah mata oleh para petinggi industri musik (pfftt, fuck ‘em all).

 

Album ke tiga, How The Mighty Fall.

Semua lagu-lagu Mark selalu berhasil menarik perhatianku dan karena itu aku bisa bener-bener tergila-gila sama karyanya. Album ini menurutku emang salah satu karya terbaiknya (dari empat album yang juga akan kusebut sebagai karya terbaiknya karena tulisan Mark = masterpiece, periooooddttttt.)

Karena dirilis secara indie, Mark jadi lebih bebas berekspresi dan gak perlu mencemaskan para petinggi label yang berisik, alhasil tulisannya pun terasa lebih lepas, tapi tentu saja, masih konsisten. Aku perhatiin album ini lebih terasa spiritualismenya, dan bukan cuma karena ada lagu Falling Star dan Hail Mary yang bikin Mark terkesan lebih relijius, tetapi juga ada lagu berisi tentang motivasi hidup seperti They Do dan Stand.

Salah satu line favortiku: let the broken heart be filled with love again.

Ditambah lagu seperti Spirit Rise, We Could Rule The World dan Come On ini juga bikin aku berpikir, “okay, sepertinya Mark udah ngerasa lebih baik sekarang?” kayak … dia udah menemukan cinta dan semangat hidup yang baru dan kemudian menebarkan energi positif itu ke seluruh tulisan di album ini. Ohiya, satu lagu lagi yang diduga kuat ngomongin Robbie, Believe In The Boogie yang sejujurnya punya vibe mirip banget dengan Shine dari Take That yang dirilis setahun kemudian (yaiyalah mirip, penulisnya, tujuan lagunya, sampe inspirasinya sama semua hwhwhw).

Satu lagu yang agak sedikit beda dari yang lainnya di album ini, Wasting Away. Aku menangkap makna lagu ini sebagai kegelisahan dan kemarahan serta segala perasaan negatif yang dirasakan Mark terhadap bubarnya Take That serta kesadaran diri bahwa dia gak akan bisa sesukses di Take That dulu ketika kini bersolo karir. Walaupun aku ngerasa lagu ini sedikit “too angry for a Mark Owen” tapi aku suka banget dengan komposisi musiknya (dih, as if I know anything about music jhahaha). Serius dah, ini termasuk lagu favoritku.

 

Album ke empat, The Art of Doing Nothing.

Naahh, kalo album ini sih udah pernah kubahas secara tuntas di sini, tapi gapapa akan kubahas secara singkat terkait konsistensi Mark dalam menulis materi dengan satu tema yang sama untuk sebagian besar track di albumnya.

Album ini pun begitu. Yang paling penting, album ini menjadi semacam self-help dan renungan yang lebih mendalam (bagi Mark serta bagi kita semua). Selalu bersyukur dan jangan sia-siakan cinta yang udah kita dapat.

Dah itu aja sih, singkat, kan? :v

Okeh, jadi itulah tadi pendapatku mengenai keempat album karya Mark yang sangat tidak mendapat apresiasi yang cukup bahkan ketika di Take That pun semua credit lari ke si kapten :”) Meski pun Mark tampaknya gak terlalu mempermasalahkan hal itu sih (tentu saja, karena terlalu humble-nya dia) dan kalo seandainya Mark rilis album solo lagi (yang mana aku sangat mengharapkan itu), semoga audiensnya jauh lebih banyak.

(meme hanya untuk hiburan semata dan tidak bermaksud ngajak war GB Army atau Friendlies, karena pertama, diriku sendiri juga seorang Friendlies garis kerad dan ke dua, serem cok ngajak war GB Army).

 

Akhir kata, terima kasih sudah membaca dan stay safe, everyone!

 

            Handdwi.❤❤

Komentar