I Left My Heart in East Jakarta

Tulisan ini aku buat sekitar bulan Januari 2020. Saat itu sedang patah-patahnya hati dan aku menulis sebanyak-banyaknya. Tidak semua tulisan sanggup kupublikasikan bahkan jika hanya di platform media sosial seperti Facebook. Saat aku kembali menemukan tulisan ini di antara file-file lama, kukira aku akan memubikasikannya di blog ini supaya gak terlalu sepi hehe.

Soal isi dan perasaan yang ada di dalamnya, sekarang sudah berbeda. Aku sudah jauh lebih baik :))

Selamat menikmati!

       ***

“Nona, aku telah membaca beberapa puisimu.”

Pertama, terima kasih banyak telah bersedia membaca puisiku yang gagal itu. Aku sedang belajar menulis, terkesan begitu lancang saat aku bersikeras untuk menerbitkan sebuah buku.

“Baiklah, tapi ada yang ingin kutanyakan.. dari sebagian besar puisimu, kau banyak sekali membicarakan tentang pulau Jawa, terutama langit Jakarta. Seringkah kau kesana?”

Bukan tentang pulaunya, melainkan seseorang yang menetap di sana. Selama sembilan belas tahun hidupku, aku hanya menetap di Andalas, tanpa pernah menyeberang atau terbang dan mendarat di pulau-pulau lainnya.

“Siapakah seseorang itu? Sebegitu istimewanya kah, dia?”

Sangat istimewa, sahabat yang baik, bahkan sempat kuserahkan hatiku padanya.

“Bagaimana bisa? Ceritakanlah sedikit, jika kau tak keberatan.”

Hatiku tengah hancur saat itu, begitupun hatinya. Awalnya dia hanya sekadar teman baik. Kami bertukar begitu banyak cerita, berusaha saling menyembuhkan luka, hingga membicarakan impian tentang memandang senja bersama. Semuanya terasa begitu sempurna hingga aku yakin untuk menyerahkan hatiku padanya.

“Kalian belum bernah bertemu, nona! Ah, kau ini.”

Benar. Aku mengambil amplop dan memasukkan hatiku yang telah hancur ke dalamnya, sebab aku percaya jika kuserahkan padanya, ia akan bisa menyembuhkannya kembali. Tak lupa pula kuselipkan kecupan ringan di ujung amplopnya. Lalu kemudian terciptalah semua puisi itu, tentang pulau Jawa, tentang kota Jakarta, tentang sosoknya yang begitu kucinta.

“Berapa lama itu terjadi? Semua musim semi itu....”

Tidak berlangsung lama. Banyak hal terjadi hanya dalam beberapa minggu yang pada akhirnya membuatnya memutuskan untuk mengembalikan amplop yang telah kukirim. Meski aku tidak mengharapkan ini berakhir, aku tetap bersyukur ia mengakhirinya dengan jelas.

“Biar kutebak, berakhirnya kalian bukanlah bagian terburuknya, bukan begitu?”

Tentu saja. Susah payah aku memaksa diriku tersenyum saat membuka amplop itu. Kulihat hatiku yang sudah hancur semakin parah kondisinya. Tampak ia sudah berusaha memperbaikinya dalam beberapa minggu terakhir, tapi di hari dimana kata perpisahan itu terucap, ia telah menggagalkan usahanya sendiri.

“Setidaknya dia sudah mengembalikan hatimu, kau pun telah menerimanya kembali. Kenapa kau masih tampak bingung dan sedih? Seolah masih ada yang belum terselesaikan.”

Satu hal, yang membuatku selalu memaki dalam hati, bahwa dia dan aku akan selalu menjadi urusan yang tak akan pernah terselesaikan.

Hatiku, aku sangat memahami dan mengenali setiap sisinya. Meski telah hancur berkeping-keping karena seseorang di masa lalu, aku masih tetap menjaga agar semua kepingan tetap di tempatnya walaupun sulit direkatkan agar menjadi seperti sedia kala.

Kemudian, dia, mengembalikan hatiku secara tak utuh. Aku menyadari ada kepingan yang hilang sejenak setelah aku membuka amplopnya. Bagian terburuknya adalah, ia tak akan pernah menyadari hal itu.

Kepingan itu, kepingan yang sangat kecil. Barangkali terjatuh ke bagian bawah ranjangnya, atau mungkin terselip di antara buku-buku sejarah lama yang selalu ia baca, bisa jadi pula kepingan itu terlempar ke sudut kamar karena kecerobohannya.

“Astaga, apa tak ada kemungkinan lain yang lebih baik?”

Ada, tapi aku terlalu takut dan malu untuk membayangkannya.

“Kau bisa ceritakan padaku, aku tak akan memberi tahu siapapun.”

Kemungkinan yang lain.. dia sengaja tak mengembalikan kepingan itu. Namun memilih untuk menyimpannya, menyembunyikan di balik celah dompetnya lalu mendiamkannya di dalam saku jaketnya. Jadi jika sewaktu-waktu ia melihat kepingan itu, ia akan ingat dan bergumam, “Pernah suatu waktu aku membuat seorang gadis di Andalas jatuh cinta”

Agak menyakitkan kehilangan kepingan itu, tapi tak masalah jika ternyata ia menyimpannya. Tak masalah juga bila ternyata kepingan itu benar-benar hilang, terbuang entah kemana.

“Jadi itulah kenapa..”

Ya! Itulah kenapa terkadang puisiku masih bercerita tentang kota Jakarta. Sebab kepingan kecil dari hatiku masih tertinggal di sana, tapi kuyakin suatu saat angin akan berhembus sekaligus menunjukkannya jalan pulang, mengantarnya padaku, dari timur Jakarta, kembali ke utara Sumatera.

But for now, my heart is (left) in east Jakarta.


***

Namun pada akhirnya, bisa juga kulalui patah hati itu. Bisa pula kudapatkan kepingan itu kembali. Ia tidak lagi tertinggal dan tersesat di kota metropolitan itu. Ia telah berhasil pulang dan berhasil kurekatkan kembali bersama kepingan lainnya

Adapun semua itu karena seseorang dari kota kembang, ia berbaik hati membantuku memperbaiki semuanya sedikit demi sedikit.

 

Handdwi. ❤❤


Komentar