Stars in The Shoes; Buku Pertama Hasil Fangirling Berkepanjangan

    Halo, semuanya! Selamat datang kembali di tulisan Handdwi. Di tulisan kali ini aku mau bahas soal buku pertamaku, sebuah novel remaja berjudul Stars in The Shoes.


 Singkatnya kenapa buku ini bisa terbit adalah karena pada waktu itu, bulan Agustus 2019, salah satu penerbit Indie (Guepedia Publisher) bikin event terbit gratis tanpa seleksi. Aku yang saat itu baru aja lulus SMK dan ga ada kegiatan, langsung buka laptop dan periksa koleksi naskah apakah ada yang sekiranya bisa dikirim atau engga. Ternyata ada! Aku baca persyaratan dan juga tentu saja revisi naskahku lagi sebelum akhirnya aku kirim ke mereka. Dalam waktu beberapa minggu aku dapet e-mail konfirmasi bahwa naskahku dalam proses penerbitan, gaes! Ya ampun seneng banget dong.

Pada akhir Agustus, tanggal 22, buku ini resmi terbit dan aku akhirnya bisa nyebut diriku sebagai pengarang huaaaa *nangis bahagia. Ucapan selamat dari sana sini dan beberapa sahabat baik juga bantu promoin buku aku.

Begitulah singkat cerita proses penerbitannya. Sampe sekarang aku udah punya 3 buku dan semuanya terbit di Guepedia dalam even terbit gratis hihi (emang best banget sih penerbit yang satu ini. Semuanya mereka yang urus dari mulai cover sampe ISBN. Udah gitu covernya kece-kece beuudh..)

Tapi gaes, di samping kemudahan penerbitan oleh Guepedia, yang mau aku ceritakan di sini adalah latar belakang buku tersebut. Gimana awalnya aku bisa nulis itu dan tentang ceritanya (tapi tidak ada spoiler kok, semoga hyahaha)

Yang pertama yang harus kalian ketahui, buku ini awalnya adalah fanfiction alias fiksi penggemar. Bagi fangirl yang suka nulis atau baca fanfict di wattpad pasti paham lah ya. Tapi cerita ini gak pernah aku post di wattpadku (dulu pas masih aktif) karena niat nulis Cuma untuk ngasih hadiah ke salah satu sahabat terbaikku.

Fanfictnya tuh tentang Take That, boyband tahun 90-an yang aku suka banget. Pokoknya mereka jadi inspirasi terbesarku bahkan sampe saat ini. Waktu itu tahun 2017 aku lagi ngefans-ngefansnya sama mereka sampe akhirnya bisa nulis fanfict panjang (sekitar 100 halaman lebih).

UwU om-om inspirasiku~

Apakah cerita dalam fanfict itu bener terjadi di dunia nyata?

Well, tentu tidak. Secara namanya juga fiksi. Di dalam ceritanya, Take That reuni lagi berlima (padahal di aslinya mereka tinggal tiga orang karena yang dua keluar). Saat itu aku emang bener-bener berharap banget sih mereka bakal reuni lengkap berhubung emang bakal ngerayain anniversary ke-30 tahun. Jadi aku bikin ceritanya mereka reuni lengkap.

Yah ternyata setelah bukunya terbit, mereka tetep bertiga, gaes. Hiks.

terakhir kali show berlima tahun 2011, aku masih kelas 5 SD dan belum kenal boiben :((

Itu adalah inspirasi utama kenapa aku nulis cerita Stars in The Shoes, tapi sebenernya poin utama ceritanya bukan itu sih hehe.

Novel ini menceritakan tentang Sarah, anak SMA yang baru aja lulus dan pengen banget jadi koreografer/dancer dan pengen kuliah di bidang seni karena itu passionnya sejak dulu, selain itu dia juga pengen bikin gebetannya terkesan, Rey, temen sekelasnya yang jago ngedance dan sampe ditawari beasiswa kuliah seni di universitas terkenal di kota itu.

Tapi orang tua Sarah ga setuju dengan keinginannya. Mereka justru mau Sarah jadi psikolog. Tenang, gaes. Orang tua Sarah ga sejahat itu kok. Mereka juga ngizinin Sarah kalo emang dia mau kuliah di bidang seni, dengan syarat dia harus dapet beasiswa penuh karena orang tuanya ga mau biayain dia kalo dia kuliah di bidang lain selain psikologi.

Sayangnya, kemampuan Sarah belum cukup untuk itu. Bisa dibilang, dia Cuma amatir. Hanya kecintaan Sarah terhadap Take That yang selama ini bikin dia belajar dancing secara otodidak lewat koreografi Take That yang dia liat setiap konser atau dalam video musik. Dan itu semua gak cukup untuk bikin Sarah dapet beasiswa. Setelah mikir, Sarah pun pasrah karena dia merasa ga akan bisa dan dengan lapang dada menuruti keinginan orang tuanya.

Eh, tunggu dulu. Semuanya berubah dalam sekejap ketika di suatu hari Sarah ga sengaja bertemu Jason Orange, salah satu personil Take That, idolanya!

Potret Jason Orange yang pemalu dan berusaha menghindari kamera

Oke deh sepertinya jika diteruskan nanti saya malah akan memberi spoiler hwhwhw, tapi jika kalian emang penasaran, silakan baca bukunya. Dapat dipesan di website resmi guepedia atau di bukalapak.

Sebelum tulisan ini berakhir, aku mau kasih sedikit review sekalian membanggakan karya sendiri  boleh lah ya.

Novel ini lumayan ringan dan cocok buat kalian yang ga terlalu suka alur yang berbelit-belit serta konflik berlapis-lapis. Semuanya serba santuy tapi tetep bermakna eaaa. Di awal kalian akan merasakan betapa ambisiusnya sosok Sarah tapi di tengah-tengah semuanya bakal ambyar karena ada sesuatu. Mungkin author terkesan terlalu teburu-buru dalam menyelesaikan ke-ambyar-an tersebut, tapi itulah yang bikin novel ini tidak terlalu berat (seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya xD). Intinya aku bersyukur sekali akhirnya fangirlingku bisa menghasilkan karya :v

Oke cukup sekian, sampai bertemu di tulisan berikutnya.

Love,

Handdwi. ©©


Komentar