Patah Hati dan Mati Rasa: Akhiri Hidup atau Mencintai Lebih Banyak?

Tulisan ini kutulis dalam keadaan yang bahkan tak bisa dijelaskan. Hanya mencurahkan apa yang ada dalam pikiran, mungkin sedikit menyesatkan, apapun yang ada di dalamnya, sama sekali bukan untuk mempersuasi siapapun untuk melakukan apapun.


Usiaku sembilan belas tahun lebih empat bulan. sejauh ini, kurasa aku sudah jatuh cinta sekitar tiga kali. Jatuh cinta yang benar-benar cinta. Apakah jumlah itu terdengar cukup banyak bagi seorang yang (mengaku) sulit jatuh cinta sepertiku? Satu di antaranya tidak terbalas, satu terbalas namun tak ada relasi, dan yang terakhir …sedikit rumit menjelaskannya tetapi aku akan menyebutnya sebagai hubungan pertama yang pernah kujalin selama sembilan belas tahun hidupku. Sampai saat tulisan ini dibuat, aku masih ada di dalamnya.

Aku tidak akan membicarakan tentang mereka yang pernah membuatku jatuh cinta, tetapi sesuai dengan judul tulisan ini, ketika aku mengalami patah hati dan akhirnya mati rasa, apa yang akan kulakukan? Mengakhiri hidup atau mencintai lebih banyak?

Beberapa orang akan memaki orang lain yang memilih untuk mengakhiri hidupnya ‘hanya’ karena patah hati, karena kehilangan seseorang dalam sebuah relasi. Orang-orang yang patah hati ini, dianggap tolol dan gila. Sejujurnya, aku sependapat dengan itu. Bukan, bukan karena aku meremehkan luka atau rasa sakit seseorang, hanya saja memilih mengakhiri hidup karena seseorang menyakitimu adalah pilihan yang kurang tepat (menurutku). Hal itu umum terjadi jika seseorang menjadikan orang lain sebagai satu-satunya sumber kebahagiaannya. Padahal menurutku, kebahagiaan harusnya bersifat abstrak, tak boleh didefinisikan dalam sebuah objek.

“Jangan berharap pada manusia, nanti kau akan kecewa.” Kalimat itu memang sering kali terucap, dan sering pula tak dihiraukan. Berharap, suatu verba yang sulit untuk aku hindari. Dalam hal ini, berharap pada seseorang. Saat aku pertama kali jatuh cinta, belum pernah aku merasakan patah hati karena seseorang. Patah hatiku hanya sebatas kekecewaan ketika tak mendapatkan es krim cokelat favoritku di hari yang panas.

Ketika cinta pertamaku tak terbalas, aku mengalami patah hati yang sangat buruk dan sangat sering menangis. Kedua kalinya patah hati, lebih buruk lagi. Rasanya aku mengeluarkan semua tangisku saat itu, setiap malam. Nyatanya semua patah hati itu tak menjadikanku takut untuk berharap. Aku tetap mempersilakan siapapun yang ingin masuk ke hidupku (tentu saja dengan beberapa pertimbangan terlebih dahulu). Dan ketika terlihat kembali tanda-tanda bahwa relasiku dalam ‘bahaya’, aku jadi tidak takut lagi. Aku nyaris terbiasa dengan rasa sakit itu.

Terbiasa dengan rasa sakit bukan berarti aku telah menjadi orang yang kuat. Tidak, aku tidak benar-benar kuat. Aku hanya cukup berani untuk menghadapinya.

Setelah mengalami banyak sekali kejadian, aku menarik satu kesimpulan yang sebenarnya cukup menyedihkan; bahwa aku selalu mencintai orang lain (partner) lebih banyak daripada mencintai diriku sendiri. Ini adalah suatu hal yang sangat sering terjadi bahkan pada kebanyakan orang tetapi sebenarnya tak wajar. Apapun alasannya, mencintai diri sendiri adalah suatu keharusan dan harus berjalan seimbang.

Ketika aku sampai pada masa dimana aku menyadari bahwa rasa cinta dan kepedulianku tak dihargai, aku memikirkan satu hal yang membuatku tak kecewa meski telah patah hati: mungkin saja orang itu lebih membutuhkannya. Maka sejak itu, aku tidak pernah berpikir “Ah, aku telah memberikan cintaku pada orang yang salah!”

Selain itu, hal lain yang kupilih ketika patah hati dan akhirnya mati rasa tentu saja adalah dengan mencintai lebih banyak. Ini memang kedengaran tidak masuk akal dan konyol, tetapi itu adalah pilihan selanjutnya, bukan seketika.

Ketika aku patah hati, aku menikmati rasa sakit itu. Menghabiskan waktu mendengarkan lagu-lagu menyedihkan dengan tangga nada minor. Setelah cukup, aku akan beristirahat sejenak untuk merenung dan menuliskan beberapa hal. Jika terlalu lama bisa sampai mati rasa, tetapi tak masalah. Hal yang kulakukan selanjutnya adalah melirik ke belakang dan mendekap semua rasa sakit, menyambut kepedihan dengan kelapangan hati, merayakan semua yang telah datang dan pergi, hanya dengan itu aku bisa berdamai dengan masa lalu untuk selanjutnya bisa dengan lega menatap ke depan, bersiap untuk siapa yang datang selanjutnya. Barulah, aku akan mencintainya lebih banyak.

Rabu, 15 Juli 2020.


Komentar