A Fangirl and Her Biggest Dream, Thanks to Robbie Williams & Mark Owen.

             Orang-orang yang gak pernah terjun ke dunia fangirling/fanboying-an terhadap musisi tertentu dan sejenisnya mungkin gak akan bisa relate dengan tulisan ini, tapi ini bukan tentang orang lain atau siapa pun, tulisan ini hanya tentang ceritaku yang udah tiga tahun menjadi fangirl dari dua musisi hebat dari Britania Raya, Robbie Williams dan Mark Owen.


Sejak SMP, beberapa orang mungkin kenal aku sebagai anak paling ambisius karena punya banyak banget cita-cita: penulis. Ya, kalo cuma penulis doang, sih dikit, ya. Tapi cita-citaku emang banyak: penulis, terus pengen bukunya diangkat ke film, kalo bisa jadi sutradara dari filmnya sendiri, hahaha. Menurutku aku gak begitu ambisius. Cuma mereka aja yang gak kepikiran untuk punya cita-cita yang banyak begitu. Katanya, sih, cita-citaku ketinggian. Padahal buatku itu udah paling low dan realistis. 😶

Makin gede, makin banyak hal yang baru aku tahu, makin banyak hal juga yang pengen aku coba dan tentunya berpengaruh ke rencana-rencanaku. Bukan rencana jangka pendek kayak mikirin ntar malem Minggu mau makan baso di mana, tapi rencana jangka panjang, yang aku sendiri kadang takut untuk mikirin hal itu.

Awalnya punya keinginan untuk jalan-jalan ke luar negeri, tapi kalo dipikir-pikir kok mainstream banget, ya? semua orang juga punya keinginan macem itu, kan? Terus mikir lagi, hmm … pengen deh, bisa sekolah tinggi sampe lanjut S2. Yhaa walaupun keadaan finanSIAL keluarga saat ini tidak memungkinkan, tapi siapa yang tahu di masa depan? Lagipula masih ada beasiswa, ya ga? Biar lebih menantang, aku akhirnya gantungin mimpi di level “lanjut kuliah S2 di luar negeri”.

Bentar-bentar, perasaan ini poinnya ngacak banget. Padahal tadi mau ngomongin RW ama MO yak wkwkwk. 😂

Oke, jadi begini. Dulu pertama kali keracunan boyband adalah tahun 2014. Westlife, boyband pertama yang bikin aku tergila-gila sampe ga bisa tidur karena kebayang senyumnya Mark Feehily. Terus pas tahun 2017 aku bersama seorang sahabat iseng nyari tau dan dengerin boyband-boyband barat lainnya (khusus yang tahun 90-an, suka om-om soalnya akwowkwko). Di situlah aku pertama kali kenal Take That.



Gak bisa dibantah bahwa cinta pertamaku di Take That adalah Gary Barlow, saat aku liat mv A Million Love Song dan langsung terhipnotis oleh suara dan wajah tampannya. Kemudian aku juga suka Mark Owen karena, hei, SIAPA YANG GAK SUKA DIA?? 😭 Awal-awal kenal Take That juga aku gak terlalu suka sama Robbie Williams karena berdasarkan sedikit berita yang kubaca, dia fakboi gituh terus jahat juga sama Gary, nah jadinya aku gak suka dong, xixixi. 👀

Hari demi hari makin suka Take That dan makin sering banyak baca tentang mereka dan barulah aku paham jalan cerita boyband ini, terutama setelah dengerin album Progress. Dari situ awal aku mulai terkesan dengan sosok pak RW. Selain itu, aku juga makin tertarik sama ceritanya Mark.

Kecintaanku terhadap dunia kepenulisan serta hal-hal yang puitis bikin aku dengan senang hati menghabiskan waktu dengan menerjemahkan dan menginterpretasikan setiap lagu-lagu Take That, dan semakin kudalami, semakin jatuh cinta sama tulisan mereka terutama RW. Pada saat itu akhirnya kuputuskan bahwa dua member Take That favoritku adalah Robbie Williams dan Mark Owen.

Selain termotivasi oleh tulisan serta kisah hidup mereka yang mana banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari sana, kelakuan fangirling ini yang pada akhirnya berpengaruh juga terhadap rencana-rencanaku yang sebelumnya sudah kusinggung di atas. Setelah ngefans dan tergila-gila sama RW dan MO, tentunya aku juga punya impian untuk menemui mereka secara langsung suatu saat nanti, dong. Aku punya impian untuk bisa nonton konser live Take That suatu hari nanti. 😻


Hmm … setelah dipikir-pikir lagi, punya impian nonton konser idola juga kayaknya mainstream banget, ya?

(sampe titik ini aku sadar bahwa aku memang selalu bermimpi lebih tinggi dan lebih tinggi, tapi entah kenapa itu terasa sangat natural wkwk)

Akhirnya aku mengatur ulang targetku, yang kali ini kuanggap sebagai target tertinggi: pergi ke luar negeri buat lanjut S2 di Inggris sekalian ketemu musisi idola yang sudah menjadi inspirasiku selama ini. 😇

Lalu ada berita tentang RW yang menerbitkan buku biografi untuk yang ke dua kalinya. GB melakukan hal yang sama dua tahun kemudian. Biografi mereka beneran bikin aku penasaran dan pengen banget beli, tapi sangat tidak terjangkau bagiku hiks.

Terlepas dari kegalauanku yang gak bisa beli bukunya karena kemahalan ongkir dari London ke Rantauprapat yang diperkirakan mencapai lima ratus ribuan sementara aku harus nyicil SPP kuliah, kuputuskan untuk tetap kalem dan berselancar mencari spoilernya dari review fans, walaupun dikit-dikit yang penting tau isi bukunya apa.

Kemudian waktu berjalan lagi. Aku sibuk dengan tugas-tugas yang pada saat itu baru mulai kuliah. Fangirling jalan terosss. Tiada hari tanpa dengerin lagu Take That dan lagu-lagu solo membernya.

Di satu hari aku mikir, random banget, “Dua member Take That udah punya biografi, bahkan masing-masing punya dua. Tapi Mark kok belum punya, ya?”

Aku sedih menyadari bahwa Mark begitu underrated. Bayangin, musisi yang tulisannya sangat indah dan merupakan salah satu manusia paling humble di muka bumi, tampaknya gak diapresiasi dengan cukup (menurutku). Meskipun Mark bisa saja gak pernah keberatan dengan itu, karena begitu humble-nya dia. 😭💓

Triiinggg! ✨✨

Mendadak terlintas sesuatu di pikiranku. Sesuatu yang gila. Jauh lebih gila dan mungkin agak menakutkan dari apa yang bisa kupikirkan soal “menggantungkan mimpi, target, atau apalah itu”.

Momen itu juga, aku memutuskan untuk ngambil tangga dan meninggikan lagi targetku sebelumnya. Aku bakal ke Inggris, lanjut studi S2, ketemu para personil Take That dan menulis buku biografi Mark Owen.

Yep, that is my dream now. Because, why not?? 

 “If your dreams do not scare you, they are not big enough.”

-Ellen Johnson Sirleaf-

Impian itu cukup menakutkan sebenarnya, tapi di sisi lain juga melegakan. Menakutkannya adalah, kecil kemungkinan itu bisa benar-benar aku raih (tapi bukan mustahil, loh, ya). Dan melegakannya, aku gak perlu memikirkan tentang target dan impianku yang mungkin harus kutinggikan lagi, that’s my biggest dream now. Aku gak perlu bingung kalo dikasih pertanyaan “apa sih impian terbesarmu?” karena aku udah punya jawabannya! Dan yang terpenting, itu bukan jawaban abstrak semacam “ingin membahagiakan orang-orang yang kusayang” (walaupun tentu, membahagiakan orang tersayang adalah sesuatu yang gak bisa diabaikan).

Hal terpenting yang harus diperhatikan bagi orang-orang dengan mimpi besar sepertiku adalah, bahwa aku gak mungkin diem aja. Aku harus berusaha keras banget, dong. Aku tahu itu bahkan sebelum aku berani bermimpi tentang apa pun. Jadi, orang-orang gak perlu menggurui aku dengan kalimat, “mimpi jangan ketinggian ntar jatoh.”

Yo, stfu, I know what I’m doing and that’s why I dare to dream. 😉

Naik turunnya motivasi pastilah sering terjadi. Apalagi pas banyak tugas, stress karena masalah lain yang dateng tanpa henti, rasanya desperate banget sampe pengen nyerah, tapi aku bertekad untuk gak melepaskan mimpi itu.

Jikalau, seandainya,  mimpi yang tinggi itu gak bisa aku raih sepenuhnya, aku gak punya alasan untuk menyesali apa pun. Ini bagian dari perubahan pola pikir yang terjadi sama aku setelah mendalami tulisan-tulisan Take That, terutama satu lagu yang di dalamnya terdapat sebuah line, sebuah kalimat yang selama dua tahun ini menjadi sesuatu yang kuyakini, sepenggal lirik dari lagu Hold Up A Light;

“All things you see end up where they should be”

 

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

Handdwi ❤❤

Komentar